Rabu, 27 Maret 2013

Kopi Darat Papandayan

Seperti mimpi rasanya, akhirnya keinginan Saya untuk naik gunung pecah telor juga hihi, akhirnya Saya berhasil menginjakkan kaki lebih tinggi, demi lebih mendekat pada Yang Maha Tinggi, Syukur Alhamdulillah.

Sempat galau sebenarnya, khawatir nda jadi berangkat karena kesulitan mendapat ijin Papa untuk perjalanan ini, alasannya cukup masuk akal, hujan-licin-bahaya. Alasan Mama lebih “nyubit” lagi, ntar aja kalau udah punya suami naik gunungnya ama suami. Nasib emang, jadi anak perempuan satu-satunya bungsu pula, mosok naik gunung aja nunggu punya suami dulu. Hadeuh (tepok jidad). Tapi dengan modal yakin saja, Saya tetap menyiapkan kebutuhan perjalanan, dan keajaiban itu datang juga, Saya diperbolehkan berkat kalimat sakti,
“Aku butuh Ridho.., yakin aja aku nda papa, kan ada Allah Yang Melindungi, La hawla wala quwwata…“

Jumat malam sekitar jam 22.00 WIB , 8 Februari 2013 kami semua berkumpul di terminal Lebak bulus. Total seluruh rombongan ada 21 orang termasuk Teamnya mas Okto, Team Kura-kura Adventure, sedangkan Kompasianer yang ikut dalam perjalanan ini ada empat orang, Saya, mba Indri, mas Okto, dan Pak Arifin Basyir. Luar biasa semangat Pak Arifin Basyir, diusianya yang akan menginjak 61 tahun beliau sangat antusias mendaki gunung Papandayan. Wooww (koprol ampe puncak) :D Pada perjalanan ini Saya juga bertemu sahabat baru, Dewi Murni, mahasiswi Uhamka yang memiliki hobi mendaki, rupanya ia tidak termasuk dalam team kura-kura, ia mendapatkan info pendakian Papandayan ini melalui twitter, bersama temannya Afnan ia bergabung bersama kami. Ada juga Mas Akbar yang ikut bergabung bersama, menurut Mas Okto iapun mendapatkan info pendakian hanya dari media sosial, facebook. Seru, jadi rame…

Sekitar jam 2 dini hari, kami sampai di Cisurupan, Garut. Kami melanjutkan naik mobil bak terbuka untuk menuju Pos Pendakian Gunung Papandayan. Wuaduh jalan yang dilalui mobil ini sungguh tidak bersahabat bagi pantat-pantat kami dalam mobil bak itu. Terlalu banyak lubang, jelas bukan jalanannya yang rusak, tapi hati Saya yang rusak bila tidak bisa menikmati pengalaman ajrut-ajrutan tersebut. :D  dalam perjalanan menjelang fajar itu, kami menyaksikan siluet gunung Cikuray yang benar-benar cantik. Sayang tidak difoto, karena kondisi ajrut-ajrutan tersebut.
Di pos pendakian kami menyempatkan diri makan gorengan, ke toilet, ke mushala dan persiapan mendaki lainnya. Kehadiran matahari pagi menandai awal pendakian ke puncak gunung Papandayan. Jalan berbatu sudah menjelma karpet merah menyambut kami. Sungguh luar biasa ketika sampai di kawah (nda tau nama kawahnya :D), sisa-sisa letusan gunung masih terlihat jejaknya. Kawah-kawah itu mengeluarkan asap belerang di sekeliling perjalanan. Saya merinding, memikirkan pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran yang hadir begitu saja mengacak-acak perasaan , bagaimana nanti ketika gunung-gunung ini menjadi seperti bulu-bulu yang dihambur-hamburkan? Bahkan gunung-gunung itu tidak diam pada tempatnya, dia bergerak… apa keadaan Saya ketika itu terjadi? #jeduuung benjol seketika!
Di tengah perjalanan saya bertemu dengan seorang bapak yang berusaha mencongkel batu untuk disingkirkan dari jalur pendakian, untuk memudahkan pendaki katanya. Kami juga bertemu dengan seorang Ibu yang memiliki kebun di atas Gunung. Saya sempat mengobrol sebentar ketika ibu itu beristirahat di sebuah batu, ia bilang kalau mau saya boleh memetik hasil tanamannya kentang, kol dll, wuaduh berat bu bawanyaah :D Ibu itu memiliki anak 2, yang satu sudah berkeluarga dan yang satu masih sekolah. Seminggu sekali beliau menengok kebunnya bersama suaminya, ketika saya tanya di mana si bapak, Ibu itu bilang suaminya sudah lebih dulu naik ke atas. Ada juga orang-orang yang mengendarai sepeda motor ke atas gunung, entah tujuannya apa ke atas, kalau menurut pak Arifin mereka ingin membuat jalur pendakian sepeda motor, jadi nantinya kawasan ini menjadi tempat wisata motocross juga. Huhuee kreatif.. tapi kalau Saya pribadi lebih suka gunung itu tetap menjadi wisata alami, tanpa kuda-kuda besi, hanya kaki-kaki saja yang mendaki…

Dalam perjalanan, Pak Arifin memberikan tips untuk membasahi masker dengan air agar nafas lebih segar dan menghindari pengaruh buruk yang mungkin timbul karena asap belerang yang keluar dari kawah. Pak Arifin ini sungguh motivator yang membuat Saya malu ketika ingin mengeluh karena kelelahan mendaki. Saya dan mba Indri sudah ngos-ngosan dalam perjalanan menuju Pondok Selada, tapi Pak Arifin sudah jauh duluan sampai hutan mati. Beliau tinggal di kaki gunung salak Bogor, sudah terbiasa sepertinya dengan udara dingin, beliau juga mengaku sewaktu muda dahulu juga suka mendaki gunung. Wooww. Pantas saja beliau terlihat santai dan sederhana dengan perlengkapan mendakinya. Setiap orang memiliki keunikannya tersendiri, saya bersyukur diberi kesempatan untuk mengenal orang-orang yang luar biasa seperti Pak Arifin, mba Indri, mas Okto, Dewi Murni dan semua teman-teman kura-kura adventure lainnya. Melalui interaksi dengan manusia, kita menemukan kebesaranNya. Subhanallah…
Perjalanan mencapai hutan mati benar-benar membuat saya ngos-ngosan. Perjalanan mendakinya banyak bonusnya, untung nda kehabisan nafas, untung udara gratis di hirup, untung aje dah bawaannya. Tapi kelelahan mendaki terbayar cash nda pake ngutang ketika melihat eksotisme hutan mati. Subhanallah. Semua pohon-pohon itu bekas terbakar akibat letusan gunung. Mudah saja bagiNya memusnahkan kehidupan…
Sebelum dzuhur kami sudah mencapai Pondok Selada, areal padang rumput seluas 8 Ha, di tempat ini Mas Okto bersama teamnya membangun tenda-tenda untuk kami bermalam. Banyak pendaki lain yang juga berkemah seperti kami, Saya kira kalau musim hujan begini pendaki tidak banyak, tapi ternyata musim hujan tidak menyurutkan niat mendaki mereka. Saya bersama tiga orang perempuan dalam pendakian ini benar-benar seperti princess (meminjam istilah team kura”), makan tinggal makan tidur tinggal tidur, nda perlu repot memasak apalagi membangun tenda. Huehueee. Setelah makanan matang, kamipun makan bersama di atas plastik :D
Pondok Selada yang menjadi tempat kami berkemah berada di ketinggian 2.288 meter di atas permukaan laut, udaranya dingin sekali. Hehee… saya kira saya tidak akan bertahan melewati malam hingga subuh di gunung Papandayan, tapi syukur Alhamdulillah walaupun semalaman menggigil di dalam tenda Saya masih bisa menyaksikan kembali matahari terbit. Sayang sekali saya tidak bisa menyaksikan matahari terbit dari atas gunung. Namun menyaksikanNya dari Pondok Selada saja sudah membuat Saya bersyukur bukan buatan.
Sekitar jam tujuh pagi kami melanjutkan perjalanan berikutnya menuju Puncak Tegal Alun, cukup melelahkan. Jalurnya mendaki terus, juga sempat melewati bebatuan yang harus hati-hati didaki karena semalam hujan khawatir licin dan tergelincir. Tapi Subhanallah, semua lelah dan kepayahan hilang seketika melihat hamparan bunga Edelweis.
Di tengah hamparan bunga-bunga Edelweis ini Saya banyak menemukan aktifitas laba-laba yang sedang membuat jaringnya. Subhanallah… benar-benar pagi yang sempurna.
Sekitar jam 11.30 kami berkemas untuk turun gunung. Semua perlengkapan telah dibereskan, dan sampah-sampah dikumpulkan di dalam plastik untuk dibawa ke bawah. Namun sayangnya, ketika kami berjalan, kami melihat pendaki lain yang membakar sampahnya di areal Pondok Selada. Kaleng-kaleng sampah itu apa akan habis terbakar? Alam memang tidak bicara berbahasa manusia, namun bahasa alam akan lebih sakit untuk dipahami manusia, jika manusia tidak pandai memelihara alamNya.
Kami menuruni gunung melalui jalur yang lebih landai, tapi tetap saja saya dan mba indri menjadi pendaki yang bontot sampai hehee… bersyukur ada mas Okto yang dengan sabar menunggui siput berjalan.
Keseluruhan perjalanan ini sungguh luar biasa bagi Saya. Ini kali perdana Saya mendaki, bersama team yang benar-benar belum pernah Saya kenal sebelumnya, hanya bermodalkan keyakinan saja semua akan baik-baik saja selama niat telah diluruskan dalam kebaikan. Ini kopdar yang luar biasa, jika ada kopdar selanjutnya seperti ini Saya diajak lagi yaaa… :)
_________
Syukur Alhamdulillah.
Terimakasih setulusnya untuk mba Indri yang sudah mengajak Saya kopdar di gunung, nda nyangka karena kenal di kompasianival jadi berlanjut persahabatan sampai seperti memiliki saudara perempuan. Terimakasih untuk Mas Okto yang sudah begitu sabar dan memanjakan princes-princes hehee, Pak Arifin dengan keteladanannya, Dewi yang melengkapi kesempurnaan mendaki kami, seluruh team kura-kura yang menurut saya sama sekali nda kura-kura, sebenarnya mereka pandai mendaki cepat namun karena membawa kura-kura seperti saya jadinya kura-kura beneran deh :D terimakasih yaa semuanyaa dan terimakasih juga kepada alam gunung Papandayan yang telah mengijinkan Saya mengunjungi. Sungguh begitu banyak pelajaran dari karunia penciptaanNya.
Salam lestari. [Ria]
Note : Artikel ini juga diterbitkan di sini

Sabtu, 02 Juni 2012

Opsih Sampah TNGGP


Kamis, 31 Mei 2012

Salam Sejahtera
Saudara-Saudara yang saya hormati,
 
Permasalahan lingkungan hidup memiliki kesamaan dengan permasalahan ekonomi, dimana keduanya tanpa batas yang dapat melintasi seluruh negara di dunia.

Dampak keduanya dapat dirasakan pada masing-masing negara hingga tingkat individu. Krisis finansial yang berawal di Amerika Serikat sekitar tahun 2008 masih berlanjut hingga 2012 terutama di kawasa Eropa.

Tantangan lingkungan hidup terbesar dewasa ini adalah terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim dimana masih belum ada konsensus dunia untuk mengikat negara-negara untuk secara bersama-sama mengatasinya.

Kedua permasalahan ini bukanlah suatu hal yang terpisah karena melalui krisis akan mendorong pemikiran-pemikiran, kebijakan dan tindakan untuk mencapai solusinya. Sudah bukan eranya lagi tujuan ekonomi dan tujuan lingkungan hidup dipertentangkan melainkan bersinergi yang tertuang dalam konsepsi ekonomi hijau dengan tujuan utamanya kesejahteraan umat manusia baik inter maupun antar generasi.





Terkait dengan hal tersebut, UNEP (United Nations Environment Programme menetapkan Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2012 adalah
          “Green Economy: Does it include you?”.

Tema ini menekankan pentingnya pelaksanaan ekonomi hijau oleh semua orang sesuai dengan proporsinya masing-masing baik pada tingkatan global, nasional hingga individu.

Kunci dalam mengatasi permasalahan lingkungan hidup adalah peran serta dari semua komponen masyarakat.
Oleh karenanya, disesuaikan dengan konteks Indonesia, maka Tema Hari Lingkungan Hidup Indonesia 2012 menjadi :

“Ekonomi Hijau: Ubah perilaku, tingkatkan kualitas lingkungan".

Makna utama dari tema ini adalah pentingnya melakukan perubahan paradigma dan juga perilaku kita untuk selalu mengambil setiap kesempatan dalam mencari informasi, belajar dan melakukan tindakan demi melindungi dan mengelola lingkungan hidup.

Dengan kualitas lingkungan hidup yang lebih baik akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.
Sedikitnya ekonomi hijau memiliki empat unsur, yaitu :

1). Pengentasan kemiskinan,
2). Pekerjaan yang layak,
3). Pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan
4). Internalisasi lingkungan dalam semua aktivitas pembangunan.

Hal ini sesuai dengan arahan Presiden RI yang menentukan arah pembangunan dengan empat pilar, yaitu Pro Poor, Pro Jobs, Pro Growth dan Pro Environment.

Dengan begitu, Ekonomi hijau yang dimaksud disini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan kesetaraan sosial yang juga dimaksudkan untuk mengurangi resiko kerusakan lingkungan.
Pada tataran nasional, Pemerintah Indonesia telah berkomitment untuk menurunkan emisi GRK (gas rumah kaca) dari kondisi business as usual sebesar 26% pada tahun 2020 dengan upaya sendiri dan sebesar 41% dengan bantuan internasional.

Penurunan emisi GRK menuntut arah pembangunan yang rendah karbon yang seiring dengan produksi dan konsumsi yang berkelanjutan.
Pada tataran lingkungan warga, telah diperkenalkan pula Program Bank Sampah, sebagai turunan dari konsep 3R (Reduce, Reuse dan Recycle) berupa sistem yang menyerupai konsep perbankan dengan memanfaatkan sampah sebagai sumber pendapatan atau dengan slogannya berupa From Trash to Cash (Dari Sampah Jadi Rupiah).

Untuk kalangan dunia usaha, sudah dijalankan Program Peringkat Kinerja Lingkungan Hidup (PROPER) dimana bagi perusahaan yang baik akan mendapatkan citra positif dan yang buruk akan mendapat hambatan pada aspek perbankan dan ketika akan go public.
Hal yang sangat penting pula dalam konteks ekonomi hijau ini adalah Indonesia sebagai negara megabiodiversity dapat menempatkan keanekaragaman hayati kita sebagai modal utama bagi pembangunan yang merupakan sumber pangan, energi dan bahan baku.

Semakin tinggi potensi keanekaragaman hayati dengan adanya Protokol Nagoya yang merupakan kesepakatan internasional untuk mengatur pemberian akses dan keuntungan secara adil atas pemanfaatan kenakeragaman hayati berupa sumber daya genetik serta pengetahuan tradisionalnya.

Semua tataran ini merupakan perwujudan pembangunan berkelanjutan yang telah kita canangkan sejak lama. Indonesia selalu menjadi pionir dalam hal lingkungan hidup termasuk sejak pengembangan konsep pembangunan berkelanjutan pada Tahun 1972 di Stockholm. Kemudian, pada Tahun 1982, Kementerian Lingkungan Hidup berdiri dan pada tahun 1992 dilaksanakan Konferensi Tingkat Tinggi Pembangunan Berkelanjutan yang menghasilkan Agenda 21.

Pembangunan Berkelanjutan dengan ketiga pilarnya, yaitu Ekonomi, Sosial dan Lingkungan Hidup adalah konsepsi utuh sebagai pilihan terbaik bagi pembangunan di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia. Tahun 2012 ini bertepatan dengan 20 tahun pelaksanaan konferensi Tingkat Tinggi Pembangunan Berkelanjutan atau dikenal dengan Rio +20. Konferensi ini akan berlangsung pada akhir Juni 2012 untuk memperkuat komitmen global dalam implementasi pembangunan berkelanjutan pada semua tingkatan.

Upaya global tersebut akan sia-sia tanpa keterlibatan kita semua, kita dapat berbuat sesuai dengan proporsi kita, mulai dari sekarang. Misalnya, dengan bersepeda sebagai moda transport alternatif; menanam pohon yang tentunya diiringi dengan pemeliharaannya; pembuatan biopori untuk menambah cadangan air tanah; memilah sampah dan hemat energi.

Atas nama Pemerintah Indonesia, kami menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak baik pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, media massa maupun masyarakat luas yang telah melakukan berbagai kegiatan mendukung upaya-upaya ekonomi, sosial dan budaya yang lebih memperhatikan lingkungan dan melakukan efiensi dalam penggunaan sumber daya alam.

Demikian, mari bersama-sama kita mewujudkan keadilan sosial melalui Pembangunan Berkelanjutan yang menjadikan Ekonomi Hijau sebagai motor utamanya.

Terima kasih.
Jakarta, 25 April 2012
Menteri Negara Lingkungan Hidup,



Prof. DR. Balthasar Kambuaya, MBA


http://www.menlh.go.id/sambutan-menlh-kepada-pemimpin-daerah-dalam-peringatan-hari-lingkungan-hidup-sedunia-2012/

Rabu, 30 Mei 2012

Jenis-jenis Sampah

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung. Akan tetapi karena dalam kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka Sampah dapat dibagi menurut jenis-jenisnya.

Berdasarkan sumbernya

  1. Sampah alam
  2. Sampah manusia
  3. Sampah konsumsi
  4. Sampah nuklir
  5. Sampah industri
  6. Sampah pertambangan

 

Berdasarkan sifatnya

  1. Sampah organik - dapat diurai (degradable)
  2. Sampah anorganik - tidak terurai (undegradable)
1. Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk seperti sisa makanan, sayuran, daun-daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut menjadi kompos
2. Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan sampah komersil atau sampah yang laku dijual untuk dijadikan produk laiannya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun karton

Berdasarkan bentuknya
Sampah adalah bahan baik padat atau cairan yang tidak dipergunakan lagi dan dibuang. Menurut bentuknya sampah dapat dibagi sebagai:

Sampah Padat 

Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik Merupakan sampah yang berasal dari barang yang mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada waktu pembersihan kebun dan sebagainya.

Berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi lagi menjadi:
  1. Biodegradable: yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan.
  2. Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh proses biologi. Dapat dibagi lagi menjadi:
    • Recyclable: sampah yang dapat diolah dan digunakan kembali karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas, pakaian dan lain-lain.
    • Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs, carbon paper, thermo coal dan lain-lain.


Sampah Cair
Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.
  • Limbah hitam: sampah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah ini mengandung patogen yang berbahaya.
  • Limbah rumah tangga: sampah cair yang dihasilkan dari dapur, kamar mandi dan tempat cucian. Sampah ini mungkin mengandung patogen.
Sampah dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi
Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri (dikenal juga dengan sebutan limbah), misalnya pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.
untuk mencegah sampah cair adalah pabrik pabrik tidak membuang limbah sembarangan misalnya membuang ke selokan.

Sampah alam

Sampah yang diproduksi di kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur ulang alami, seperti halnya daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi tanah. Di luar kehidupan liar, sampah-sampah ini dapat menjadi masalah, misalnya daun-daun kering di lingkungan pemukiman.

Sampah manusia

Sampah manusia (Inggris: human waste) adalah istilah yang biasa digunakan terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Sampah manusia dapat menjadi bahaya serius bagi kesehatan karena dapat digunakan sebagai vektor (sarana perkembangan) penyakit yang disebabkan virus dan bakteri. Salah satu perkembangan utama pada dialektika manusia adalah pengurangan penularan penyakit melalui sampah manusia dengan cara hidup yang higienis dan sanitasi. Termasuk didalamnya adalah perkembangan teori penyaluran pipa (plumbing). Sampah manusia dapat dikurangi dan dipakai ulang misalnya melalui sistem urinoir tanpa air.

Sampah Konsumsi

Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah yang dibuang ke tempat sampah. Ini adalah sampah yang umum dipikirkan manusia. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan dari proses pertambangan dan industri.


Limbah radioaktif
Sampah nuklir merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi lingkungan hidupdan juga manusia. Oleh karena itu sampah nuklir disimpan ditempat-tempat yang tidak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas tempat-tempat yang dituju biasanya bekas tambang garam atau dasar laut (walau jarang namun kadang masih dilakukan).

Selasa, 29 Mei 2012

Bebaskan Gunung Dari Sampah

Mengapa banyak gunung yang berada di Indonesia selalu penuh dengan sampah? Bahkan menjadikan tak nyaman untuk kembali di daki. Sampah merajalela disepanjang jalur pendakian hingga puncak gunung. Apa salah alam yang telah memberi kita kesempatan menikmati indahnya ciptaan Tuhan? Ini semua pastilah ulah para pendaki yang "buta" dan tak peduli konservasi!

Enggan membawa turun hanya bungkus permen, snack, mie instan, dan kaleng / botol plastik minumnya sendiri. Seenaknya menjadikan gunung tempat sampah raksasa tertinggi. Terlalu! Detik ini berpartisipasilah bebaskan gunung dari sampah.

Tugas menghapus kebiasaan menjadikan gunung sebagai tempat sampah tertinggi di negeri ini atau di daerah sendiri, bukanlah petugas kebersihan atau pengelola taman nasional, melainkan kita sendiri selaku pendaki. Tak sulit, cobalah tips berikut ini:

1. Meminimalis Logistik Plastik
Sampai saat ini memang belum ada larangan membawa logistik berbungkus plastik, kaleng, dan lainnya saat mendaki gunung. Tapi bukan berarti seenaknya membawa bahan - bahan yang sulit lebur dengan tanah itu sebanyak mungkin. Alangkah bijaknya mengurangi jumlah logistik yang mencemarkan alam itu dengan logistik ramah lingkungan.

Contoh pada hari pertama pendakian bila berangkat pagi setelah sarapan, bawalah bekal untuk makan siang dan malam dengan nasi timbel atau lontong berbungkus daun pisang ditambah menu sesuai selera yang tidak cepat basi. Cara ini bukan cuma ramah lingkungan, pun lebih efisien karena tinggal memasak air untuk membuat minuman penghangat.

Bila membawa mie instan dalam jumlah besar, sebaiknya bungkusnya tidak perlu dibawa mendaki, kecuali bungkus bumbunya. Isinya disatukan dalam satu kantong plastik berikut bumbunya.

Lebih baik membawa minuman kotak dibanding kaleng, karena sampah minuman kotak lebih mudah lebur dan ringan dibanding kaleng. Tapi tetap saja kotak dan sedotannya harus dibawa turun. Kurangi membawa minuman air mineral dan lainnya dalam kemasan botol plastik dengan cara membawa wadah air yang praktis dan dapat dipakai / diisi berulang - ulang.

2. Turunkan Sampah Sendiri
Biasakan dalam setiap pendakian menyediakan wadah khusus untuk menurunkan sampah sendiri dan kelompok mulai dari yang kecil seperti bungkus permen, bekas pembalut ( bagi perempuan ) sampai yang paling besar seperti bivak atau ponco yang robek. Wadah khusus sampah kelompok harus kuat agar ketika dibawa turun, sampahnya tidak tumpah atau tercecer.

3. Gunakan Tenaga Bantuan
Bila keberatan menurunkan sampah sendiri ataupun kelompok, gunakan tenaga bantuan khusus untuk menurunkannya. Misalkan porter khusus mengangkat logistik dan menurunkan semua sampahnya. Tentu butuh biaya tambahan untuk itu.

4. Briefing Sadar Konservasi
Pimpinan pendakian kelompok kecil maupun massal yang diorganisir oleh organisasi pecinta alam maupun komunitas, harus memberikan briefing sadar konservasi kepada seluruh pesertanya. Dan mewajibkan setiap peserta menjaga kelestarian gunung, minimal dengan menurunkan sampah sendiri.

5. Tidak Buang Sisa Makanan di Mata Air dan Alirannya
Sisa makanan seperti nasi, mie, dan lainnya sebaiknya dipendam dengan tanah jauh dari sumber air. Jangan didiamkan begitu saja. Jangan mencuci perlengkapan masak di mata air apalagi buang air besar dan kecil. Ambil air di sumbernya lalu cucilah perlengkapan masak di tempat yang agak jauh, begitu juga bila berak dan kencing.

6. Tidak Bakar Sampah di Gunung
Selain merusak dan meninggalkan bekas yang tak sedap dipandang mata, membakar sampah di gunung juga rawan kebakaran hutan. Ini sudah kerap terjadi di beberapa gunung. Jangan pula sembarang membuang putung rokok di semak belukar terlebih pada musim kemarau. Jalan terbaik, bawa turun sampah sekecil apapun.

7. Tidak Bertindak Vandalisme
Cukup tinggalkan jejak langkah, bukan coret - coretan di batu, kayu, maupun di pos / shelter pendakian. Cukup ambil / rekam gambar, bukan ambil fauna dan flora milik hutan gunung. Tak perlu menuliskan nama dan kelompok di gunung hanya untuk sekadar membuktikan kalau sudah sampai di puncak tertinggi. Coretan hasil vandalisme yang bukan pada tempatnya itu sungguh merusak pemandangan.

8. Mengecek Logistik Pendaki
Biaskan setiap pendaki membuat list logistik pendakiannya. Sedangkan pengelola gunung dalam hal ini petugas taman nasional harus mengecek list tersebut di kantor ataupun basecamp titik awal pendakian, dan mewajibkan setiap pendaki menurunkan sampah dari logistiknya.

9. Patuhi Aturan dan Sanksi Tegas
Senantiasa mengindahkan aturan yang berlaku. Pengelola gunung harus memberi sanksi tegas kepada pendaki perorangan maupun kelompok yang terbukti tidak menurunkan sampahnya sesuai list logistiknya ataupun melakukan tindak vandalism. Sanksinya bukan cuma larangan mendaki lagi ke gunung tersebut dan gunung lainnya selama periode tertentu, tapi juga membayar denda berupa uang untuk biaya operasional pengangkutan sampah tersebut.

10. Tebus 'Dosa' dengan Aksi Bersih Gunung
Bila sebelumnya pernah melakukan dosa membuang sampah di gunung sekecil apapun itu, tebuslah dengan melakukan aksi bersih gunung saat mendaki gunung itu lagi. Bagi komunitas pendaki baik komersil maupun non profit, sebisa mungkin melakukan aksi bersih gunung dalam setiap pendakian massalnya. Jangan hanya jadi ajang pelampiasan ambisi pribadi ataupun usaha menarik keuntungan semata. Alangkah bagusnya diiringi dengan kegiatan bernilai konservasi minimal bersih gunung atau melakukan reboisasi dan lainnya.

11. Sebarluaskan Aksi Green Climbing
Pemahaman tentang green climbing mountain harus disebarluaskan kepada pendaki pemula maupun kelompok pecinta alam baru lewat milis, jejaring sosial, diskusi, pendidikan dasar kepecintaalaman di sekolah, kampus, dan lainnya. Tanamkan kesadaran bahwa hutan, gunung, dan isinya adalah harta tak ternilai, investasi masa depan untuk kehidupan generasi berikutnya.

Apabila langkah di atas diindahkan setiap pendaki, terutama step 2, rasanya gunung - gunung populer sekalipun padat pendakinya, bisa terbebas sampah.

Prospek Cerah

Perlu diketahui, gunung - gunung di negeri ini pun menjadi tujuan obyek wisata petualangan yang berprospek cerah karena kian diminati pendaki mancanegara. Bila dikelola dengan baik, ke depan obyek ini berpeluang menjaring pendaki mancanegara dalam jumlah yang lebih besar.

Bila semua gunung populer kita bersih, asri, dan lestari ( baca: bebas sampah ), pasti pendaki asing akan senang dan puas, lalu memberikan citra positif dan menceritakan ke rekannya sesama pendaki. Sebaliknya bila kotor, bisa jadi bumerang. Mereka akan menginformasikan betapa joroknya prilaku segelincir pendaki kita hingga mungkin bisa membuat mereka enggan mendaki lagi atau pendaki asing lainnya pun mengurungkan niatnya mendaki.

Ingatlah perilaku jorok kita di gunung, dapat merusak imej seluruh pendaki di mata dunia. Nah, detik ini juga lakukanlah Green Adventuring, Green Mountaineering dalam setiap petualangan dan pendakian.
 sumber : belantara Indonesia